Antara menerima,berusaha dan permisif

hasil jepret di SD Tumbuh 2 Yogyakarta

Menurut pengamatan saya selama ini, dalam hidup, ada beberapa hal di mana saya punya kuasa dan bisa merubahnya tetapi banyak hal di mana saya harus belajar untuk  menerima hal tersebut.

Contoh hal yang bisa saya rubah: menjaga mulut supaya tidak asal njeplak, merubah attitude saya terhadap orang-orang yang kurang saya suka, menjaga agar emosi tidak meledak-ledak.

Contoh hal yang tidak bisa dirubah dan perlu belajar untuk menerima kenyataan ini: macet di Jakarta. Mau saya nangis, maki-maki, mengomel seperti apapun tidak akan merubah kenyataan bahwa Jakarta itu memang macet! Harus diterima dan dinikmati sambil bersyukur bahwa saat ini saya hidup di Jogja hehehe
Contoh lain lagi yang buat saya cukup menohok (halah bahasanya lebay banget) adalah koneksi internet yang byar pet bikin emosi. Menurut teknisi 147 kemungkinan besar koneksi internet saya jadi lamban karena modem adsl rusak, modem rusak kemungkinan karena tegangan listrik naik turun. Hal ini membuat saya berpikir tentang contoh berikutnya mengenai hal-hal yang harus diterima yaitu mati listrik yang sering sekali terjadi di daerah tempat tinggal saya ini. Mati listrik di daerah ini sudah langganan sehingga Rurit sering mentertawakan status ngomel saya di blackberry, ya ya ya … mentertawakan sampai akhirnya giliran dia yang kena mati listrik berkali-kali, hanya bisa misuh-misuh toh akhirnya?

Hal ini membuat saya jadi berpikir, seberapa permisif kah saya jadinya. Di mana batasan untuk mencoba mengerti atau memaklumi dan berjuang atas hak saya sebagai konsumen. Misalnya listrik, sebagai konsumen setia PLN seberapa hak saya untuk menuntut listrik menyala dengan semestinya dan tegangan listrik stabil. Sampai di mana batas maklum saya, apakah setiap hujan kemudian listrik mati itu wajar (menurut PLN itu normal)? Apakah karena saya dan anda begitu permisif PLN tidak merasa perlu memperbaiki servicenya?
Lah balada listrik mati ini ternyata rentetannya ke mana-mana, yang jelas alat-alat elektronik di rumah saya beberapa sudah mulai error dan saya yakin aliran listrik yang tidak menentu inilah penyebabnya. Apakah PLN mau bertanggung jawab membetulkan barang-barang saya? Pastinya tidak kan? Tapi mau protes juga percuma, karena toh tidak membawa hasil. Tapi apakah benar percuma? Masak sih bila masyarakat kompak protes ke PLN tidak akan membawa hasil? Tapi malas ah percuma juga demo gak ngefek, gitu kata teman saya, ya itulah yang membuat kita jadi permisif, pasrah, memaklumi saja daripada repot atau makan hati…. atau seperti Maztrie tulis di blognya, jadi membebek, jadi ya jangan heran kalau negara ini tidak maju-maju.

Saya jadi ingat, diawal abad ini ketika saya pulang ke Indonesia dan pergi belanja ke supermarket mendapat kembalian permen. Saya ingat betul saya protes habis-habisan sampai supervisornya Hero perlu dipanggil karena saya menolak dengan tegas diberi kembalian permen.  Akhirnya karena saya kalah suara dan adik saya udah merah mukanya karena malu, permen tersebut saya terima sebagai kembalian, dan besoknya saya balik lagi ke situ saya bayar yg recehnya dengan permen tersebut, eh ditolak! Kembali supervisor dipanggil dan tidak ada jalan keluar yang memuaskan, sekali lagi saya harus mengalah karena mengutip omongan adik saya; “Ya memang seperti itu di sini mbak!” Sekarang, tidak lagi saya temui fenomena kembalian dengan permen, kata teman saya akhirnya banyak yang protes sehingga kemudian dilarang, nah nyatanya itu bisa!

Ditulis sore-sore di kala hujan deras di Jogja sambil misuh-misuh karena koneksi internet lagi-lagi lebih lambat daripada semut!
ps. akhirnya malah mati,dilanjut nulis blog di HP!